Sunat 123 Hadir di Jakarta, Bekasi dan Medan

Triwahyudi ZE, dr, MARS

Triwahyudi ZE, dr, MARS

Penulis adalah Dokter di Klinik Sunat 123

WHO memang menyarankan praktik sunat dilakukan pada usia bayi. Tujuannya adalah karena proses pemulihan luka pada balita relatif lebih cepat dibandingkan ketika dewasa. Meski begitu, karena berbagai alasan tertentu, tidak semua orang punya kesempatan melakukan sunat saat bayi dan akhirnya memilih sunat dewasa.

Bijak Menggunakan Klorin

Artikel Kesehatan Selasa, 28 April 2020 09:55

Nama Klorin mulai sering disebut dan banyak dibeli oleh masyarakat sejak adanya pandemi virus Corona Covid-19. Simak artikel ini selengkapnya tentang penggunaan Klorin secara bijak.

Saat ini dunia sedang terserang wabah virus baru yang telah menyerang ribuan orang di berbagai negara dan menelan ratusan korban jiwa. Virus ini pertama kali ditemukan di wilayah Wuhan Tiongkok yang diperkirakan berasal dari hewan seperti kekelawar. Penyebab wabah virus ini adalah corona virus jenis baru yang disebut Novel Coronavirus 2019 (2019-nCoV) termasuk dalam golongan virus yang sama dengan Severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East Respirtory Syndrome (MERS).

Salah satu ketakutan terbesar dari anak-anak saat akan disunat adalah rasa sakitnya. Ada yang bilang sakitnya bisa bikin menangis. Lalu ada juga yang bilang kalau bisa pendarahan sampai darahnya habis. Akhirnya anak laki-laki jadi paranoid dan terus menundanya sampai dewasa.

Bagi beberapa keluarga, sunat adalah prosesi sakral yang akan dilalui oleh semua anak laki-laki. Itulah kenapa di Betawi ada Manten Sunat dan beberapa daerah ada hajatan selayaknya pesta pernikahan.

Sunat atau yang dalam istilah medis dikenal dengan sirkumsisi ternyata tidak hanya dilakukan untuk mematuhi anjuran agama. Ada banyak manfaat medis yang bisa didapatkan dari proses ini. Tidak hanya dilakukan oleh anak-anak, sunat juga menjadi tren di kalangan pria dewasa. Dan dalam prosesnya, sunat harus dilakukan secara higienis dan aman oleh tenaga dokter sunat berpengalaman.

Dalam Agama Islam, seorang anak laki-laki diwajibkan untuk disunat. Tradisi ini bukan semata-mata untuk melaksanakan perintah agama, tapi juga bermanfaat secara kesehatan yaitu menjaga kebersihan kemaluan. Seiring dengan berkembangnya teknologi, prosedur pelaksanaan sunat pun semakin beragam. Salah satunya sunat gemuk yang sekarang semakin banyak dicari.

Sunat saat Bulan Puasa

Artikel Kesehatan Minggu, 19 Januari 2020 17:48

Sunat dapat dilakukan kapan saja. Namun, masyarakat kerap menghindari sunat ketika Bulan Ramadhan. Alasannya, karena sunat yang dilakukan dengan metode konvensional, bisa mengganggu aktivitas puasa, terutama sunat pada anak-anak. Namun, itu cerita zaman dulu. Saat ini, ayah bunda bisa melakukan sunat untuk si kecil tanpa mengganggu aktivitas ibadah puasa yang mereka lakukan.

Sunat menjadi salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap laki-laki muslim. Sunat bisa dilakukan ketika dewasa ataupun anak-anak. Hanya saja, banyak masyarakat kurang mampu yang merasa biaya sunat untuk anak terlalu mahal. Sebagai solusinya, mereka kerap menunggu momen sunatan massal yang kerap diadakan oleh donatur yang umumnya berasal dari perusahaan, takmir masjid dan Lembaga Pendidikan.

Proses pemotongan lapisan kulit pada penis yang dilakukan saat khitan memang merupakan prosedur sederhana. Meski begitu perawatan pasca sunat tetap harus diperhatikan. Selain mengatur menu makanan, konsumsi obat (jika dibutuhkan) hingga proses pembersihan harus dilakukan dengan penuh ketelatenan. Selain untuk mencegah infeksi, perawatan harus benar agar luka cepat sembuh. 

Ayah Bunda pasti pernah mendengar bahwa anak yang baru selesai khitan tidak boleh mandi sampai luka benar-benar sembuh. Benarkah ini?

Artikel Kesehatan

Serba - Serbi