Sunat 123 Hadir di Jakarta, Bekasi dan Medan

Apakah Happy Hypoxia Itu, dan Bagaimana Cara Mendeteksinya?

Artikel Kesehatan Senin, 26 Oktober 2020 09:56
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
sunat123.com - Apakah Happy Hypoxia Itu, dan Bagaimana Cara Mendeteksinya? sunat123.com - Apakah Happy Hypoxia Itu, dan Bagaimana Cara Mendeteksinya?

Melansir situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), COVID-19 adalah virus corona jenis baru yang muncul pertama kali di Wuhan, China, pada akhir Desember tahun lalu. Ketika itu, kasus infeksi paling awal dari COVID-19 dideteksi berasal dari sebuah pasar makanan di Wuhan.

Menjadi pandemi di berbagai negara, WHO bahkan melaporkan ada 1.099.586 kasus kematian di seluruh dunia akibat infeksi COVID-19, berdasarkan data tanggal 17 Oktober 2020. Dalam perkembangannya baru-baru ini juga ditemukan sebuah kondisi yang disebut happy hypoxia atau silent hypoxemia yang menyertai infeksi COVID-19. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasannya.

Apakah Happy Hypoxia Itu?

Kata happy hypoxia menjadi sangat populer akhir-akhir ini. Istilah tersebut berhubungan erat dengan hypoxemia yang merupakan tanda penurunan kadar oksigen di dalam darah. Normalnya, saat kadar oksigen di tubuh turun, seseorang akan tampak bernapas cepat, yang dalam istilah medis disebut dispnea.

Namun, hal sebaliknya justru terjadi pada happy hypoxia. Pada kondisi ini, penderita COVID-19 tidak menunjukkan gejala sesak napas karena kekurangan oksigen. Hal itu disinyalir karena virus telah mengganggu reseptor di otak sehingga tubuh tidak mendapatkan perintah untuk segera mengambil lebih banyak oksigen.

Berdasarkan hasil penelitian yang ditulis di American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, sejumlah pasien COVID-19 yang dilaporkan mengalami happy hypoxia tidak menunjukkan gejala apapun, hingga pada akhirnya kadar oksigen dalam tubuh mereka menjadi sangat rendah—yang bisa menyebabkan pingsan, koma, atau bahkan kematian mendadak.

Akan tetapi, ada hal yang perlu digarisbawahi tentang happy hypoxia, yakni kondisi tersebut hanya ditemukan pada pasien dengan gejala COVID-19. Artinya, orang tanpa gejala tidak akan mengalami happy hypoxia. Oleh karenanya, pasien COVID-19 yang menunjukkan gejala, baik itu demam, flu, ataupun batuk, tetapi tidak merasakan kesulitan bernapas, disarankan untuk rutin mengecek kadar oksigen dalam tubuh.

Bagaimana Cara Mendeteksi Happy Hypoxia?

Kondisi happy hypoxia tentu akan lebih mudah dideteksi saat pasien COVID-19 dirawat di rumah sakit. Namun, hal ini telah menjadi perhatian serius, khususnya bagi mereka yang melakukan isolasi mandiri di rumah.

Untuk mendeteksi apakah kadar oksigen di tubuh rendah, Ayah Bunda bisa menggunakan pulse oximeter, alat yang biasa dipakai untuk mengukur fungsi paru-paru dan jantung. Pengaplikasian alat oksimeter sendiri terbilang sangat sederhana, hanya dengan ditempelkan pada ujung jari telunjuk.

Jika hasil yang muncul dalam pengecekan tersebut di atas 95, itu berarti tidak terjadi happy hypoxia. Sebaliknya, bila angka pada oksimeter menunjukkan di bawah 95, orang tersebut dipastikan telah mengalami penurunan oksigen di dalam tubuhnya.

Di samping itu, penggunaan pulse oximeter juga telah masuk dalam panduan isolasi mandiri di rumah yang disusun oleh WHO. Dalam panduan tersebut, WHO menganjurkan supaya penderita yang positif terinfeksi COVID-19 mengecek kadar oksigen dalam tubuh mereka secara teratur, dengan menggunakan alat oksimetri.

Demikian, penjelasan tentang happy hypoxia yang kini sedang hangat dibicarakan di publik. Untuk menghindari kondisi tersebut, jalan satu-satunya tentu dengan tidak terinfeksi virus COVID-19. Maka dari itu, selalu patuhi protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh WHO dan pemerintah, dengan selalu mengenakan masker, rajin cuci tangan, dan menghindari kebiasaan mengusap wajah.

Jika ingin mendapatkan update terbaru tentang berbagai isu kesehatan, anak, bayi, dan juga informasi layanan sunat tepercaya, jangan lupa kunjungi situs sunat123.com. Menyediakan layanan sunat modern, pelayanan sunat123 pastinya hanya dilakukan oleh dokter dan praktisi berpengalaman.

 

Terakhir diubah pada Senin, 26 Oktober 2020 10:07
dr. Miftahul Masruri

Penulis adalah Dokter di Klinik Sunat 123

Artikel Kesehatan

Serba - Serbi