Sunat 123 Hadir di Jakarta, Bekasi dan Medan

Sebagai orang awam kita hanya mengenal sunat dilakukan pada pria dengan tujuan tertentu. Ada yang melakukan sunat karena tuntutan agama dalam hal ini kita akan membahas Islam. Selanjutnya, sunat juga digunakan untuk kebersihan dari kemaluan hingga menurunkan risiko penyakit menular seksual seperti HIV.

Tidak banyak yang tahu bahwa sunat juga dianjurkan untuk perempuan dengan tujuan yang tidak jauh berbeda dengan sunat laki-laki yaitu untuk menjaga kesehatan kelamin perempuan. Berdasarkan data dari WHO, sunat perempuan bisa dilakukan dengan empat cara yang ternyata menuai kontroversi dari berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Namun, Negara Afrika menjadi salah satu negara yang masih mempertahankan tradisi sunat perempuan hingga kini.

Sampai saat ini, sunat perempuan masih menjadi kontroversi. Di satu sisi, sunat kaum hawa dianggap penting dalam tradisi. Namun di sisi lain, tindakan female genital cutting tersebut termasuk pelanggaran hak asasi manusia. Karena itulah Majelis PBB mengeluarkan resolusi untuk menghapus budaya sunat pada wanita di tahun 2012.

Praktik sunat pada wanita umum ditemukan di wilayah Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Sejak 1980-an, pelaksanaan sunat tersebut dikenal sebagai upaya untuk sejajar dengan laki-laki yang juga mengalami sunat. Sebagian lain menyebutkan bahwa sunat wanita adalah untuk kesopanan dan kecantikan.

Dari berbagai prosedur medis, sunat perempuan termasuk yang banyak mengundang pro dan kontra. Walau banyak dilakukan atas dasar tradisi, sunat ini bukan anjuran atau rekomendasi rutin di kalangan institusi medis. Banyak juga orang serta lembaga yang menganggapnya merugikan bagi perempuan, walau ada juga yang menganggapnya bermanfaat untuk kesehatan.

Artikel Kesehatan

Serba - Serbi